
MeKo | CIANJUR – Ada banyak cara merawat persaudaraan. Salah satunya dengan berhenti sejenak dari kesibukan, membuka ruang refleksi, dan duduk bersama tanpa membedakan latar belakang agama maupun keyakinan.
Semangat itulah yang akan dibawa Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya dalam memperingati Hari Kerohanian Nasional pada 3 November 2026 di kawasan situs bersejarah Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat.
Kegiatan ini dirancang bukan sekadar menjadi pertemuan organisasi, melainkan momentum untuk mempererat persaudaraan, memperkuat spiritualitas, dan menumbuhkan kesadaran bahwa keberagaman merupakan kekayaan yang harus dirawat bersama.
Ketua panitia, Dar Edi Yoga, mengatakan pemilihan Gunung Padang memiliki makna tersendiri. Tempat yang menyimpan jejak sejarah dan warisan leluhur itu diharapkan menjadi ruang perenungan tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, alam, dan perjalanan kehidupan.
“Gunung Padang mengajarkan kita untuk menghargai perjalanan panjang kehidupan dan warisan para leluhur. Di tempat ini, kita ingin mengambil jeda dari rutinitas, menundukkan hati, serta mengingat bahwa di atas segala perbedaan, kita semua adalah saudara. Spiritualitas seharusnya membuat manusia semakin rendah hati dan semakin menghargai sesamanya,” ujar Dar Edi, Minggu (1/11/2026).
Menurutnya, peringatan Hari Kerohanian Nasional pada 3 November menjadi kesempatan untuk menghormati keberagaman agama dan keyakinan, sekaligus memperkuat kerukunan umat beragama, baik Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, maupun Konghucu.
Rangkaian kegiatan akan diisi dengan diskusi, refleksi, dan meditasi bersama. Acara kemudian ditutup dengan syukuran serta makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur atas kehidupan.
Syukuran tersebut akan berlangsung di rumah Kepala Juru Pelihara Gunung Padang, Nanang Sukmana. Panitia menyiapkan pemotongan seekor domba untuk dinikmati bersama para undangan yang terdiri dari juru pelihara, kelompok sadar wisata, relawan, serta sejumlah komunitas yang selama ini turut menjaga dan merawat kawasan Gunung Padang.
Sekretaris PWI Jaya, Arman Suparman, mengatakan, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan organisasi yang tidak hanya kuat dalam profesi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
“Wartawan setiap hari berhadapan dengan berbagai persoalan masyarakat. Karena itu, penting bagi kita untuk sesekali berhenti, melakukan refleksi, dan memperkuat nilai-nilai rohani. Melalui kegiatan ini, kami ingin meneguhkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh, melainkan kesempatan untuk saling mengenal, menghormati, dan menguatkan,” katanya.
Arman berharap pertemuan di Gunung Padang dapat menjadi ruang kebersamaan yang hangat, tempat setiap orang merasa diterima dan dihargai tanpa melihat latar belakangnya.
Ketua PWI Jaya, Kesit B. Handoyo, bersama jajaran pengurus harian dijadwalkan hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran para pengurus diharapkan semakin memperkuat semangat kebersamaan keluarga besar PWI Jaya dengan masyarakat dan komunitas di sekitar Gunung Padang.
Bagi panitia, peringatan ini bukan tentang kemegahan acara atau banyaknya orang yang hadir. Lebih dari itu, ada pesan sederhana yang ingin dibawa pulang setiap peserta: bahwa kerohanian tidak berhenti pada doa dan kata-kata, tetapi harus terlihat dalam sikap saling menghormati, kepedulian, dan kesediaan berbagi.
Di tengah perbedaan dan kesibukan kehidupan, Gunung Padang akan menjadi tempat untuk kembali mengingat satu hal penting: manusia boleh berbeda dalam keyakinan, tetapi tetap dapat berjalan bersama dalam persaudaraan.


