Menu
mediakoran.com

Waspadai Kanker Hati dan Batuk Kronis pada Anak, Dokter Tekankan Pentingnya Deteksi Dini

  • Share

MeKo || Jakarta

Kanker hati yang dikenal sebagai silent killer serta batuk kronis pada anak menjadi dua isu kesehatan yang mendapat perhatian khusus dalam kegiatan MediOne Gathering yang digelar di Grand Whiz Point Simatupang, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

Menghadirkan dua dokter spesialis dari Rumah Sakit Sunway Kuala Lumpur, Malaysia, yakni Dr. Hairol Azrin, Spesialis Bedah Umum Hepatobilier dan Pankreas, serta Dr. Noor Zehan, Dokter Spesialis Pernapasan Anak, acara tersebut memberikan edukasi kesehatan kepada kaum perempuan dari berbagai komunitas yang sebagian besar memiliki pengalaman langsung dengan penyakit tersebut, baik pada anggota keluarga maupun anak mereka.

Kegiatan yang diawali dengan senam bersama dan dilanjutkan dengan sesi berbagi pengetahuan kesehatan itu berlangsung interaktif. Para peserta tampak antusias mengikuti pemaparan serta aktif mengajukan pertanyaan terkait pengalaman yang mereka hadapi.

Dalam paparannya, Dr. Hairol Azrin menjelaskan bahwa kanker hati kerap dijuluki silent killer karena pada tahap awal hampir tidak menimbulkan gejala yang jelas. Akibatnya, banyak pasien baru mengetahui penyakit tersebut ketika telah memasuki stadium lanjut.

“Kanker hati sering kali tidak menunjukkan gejala pada fase awal. Kerusakan yang terjadi pada organ hati baru disadari ketika penyakit sudah berkembang lebih jauh, sehingga peluang penanganan menjadi lebih terbatas,” jelasnya.

Menurut Dr. Hairol, sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker hati, di antaranya konsumsi alkohol berlebihan, obesitas, serta infeksi virus Hepatitis B dan Hepatitis C.

“Penyebab kanker hati di antaranya akibat gaya hidup seperti konsumsi alkohol berlebihan, obesitas, serta infeksi Hepatitis B dan C. Faktor-faktor ini dapat memicu peradangan kronis, sirosis, hingga berkembang menjadi kanker hati,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa konsumsi alkohol secara berlebihan memiliki efek toksik yang dapat merusak sel-sel hati. Sementara itu, penumpukan lemak pada hati serta infeksi hepatitis yang berlangsung bertahun-tahun dapat mempercepat terjadinya kerusakan kronis dan meningkatkan risiko kanker.

Dr. Hairol juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko.

“Kanker hati dapat menyebabkan fungsi hati menurun hingga tidak berfungsi dengan baik. Salah satu gejalanya adalah mata dan kulit yang menguning. Untuk Hepatitis B, pemeriksaan darah penting dilakukan guna mengetahui jumlah virus dalam tubuh. Sedangkan Hepatitis C saat ini memiliki peluang sembuh yang cukup baik. Karena itu, pencegahan dan diagnosis dini melalui pemeriksaan USG sangat dianjurkan,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa banyak pasien baru datang berobat setelah penyakit memasuki stadium lanjut, termasuk pasien yang berasal dari Indonesia.

Sementara itu, Dr. Noor Zehan menyoroti masih banyak orangtua yang menganggap batuk berkepanjangan pada anak sebagai kondisi biasa. Padahal, batuk yang berlangsung lebih dari empat minggu tanpa perbaikan memerlukan evaluasi lebih lanjut oleh dokter spesialis pernapasan anak.

“Batuk kronis pada anak tidak boleh dianggap remeh. Jika berlangsung lebih dari empat minggu, terutama disertai sesak napas, penurunan berat badan, atau mengganggu tidur malam, orangtua perlu segera memeriksakan anak ke dokter,” jelasnya.

Menurutnya, dampak batuk kronis tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik anak, tetapi juga kualitas hidup dan perkembangan mereka.

“Batuk yang terus-menerus dapat menyebabkan gangguan tidur sehingga anak menjadi mengantuk pada siang hari dan sulit berkonsentrasi saat belajar. Selain itu, anak bisa mengalami muntah setelah batuk, nyeri dada atau perut akibat kontraksi otot yang berulang, suara serak, hingga penurunan nafsu makan yang berdampak pada berat badan dan prestasi belajar,” paparnya.

Melalui kegiatan edukasi tersebut, kedua dokter sepakat bahwa peningkatan kesadaran masyarakat mengenai gejala awal penyakit menjadi langkah penting untuk mencegah keterlambatan diagnosis dan menurunkan risiko komplikasi yang lebih serius.

“Deteksi dini adalah kunci. Semakin cepat penyakit dikenali, semakin besar peluang untuk mendapatkan penanganan yang optimal,” tutup keduanya.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *