MeKo || SUKABUMI
Tokoh Budaya dan Spiritual yang akrab disapa Abah Ujang Guru, Ujang Supriatin, menegaskan pentingnya pemanfaatan warisan budaya dan kearifan lokal (local wisdom) sebagai instrumen diplomasi pertahanan regional.
Ujang Supriatin yang juga merupakan Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja (FSP) Maritim Indonesia menilai, pemanfaatan budaya merupakan wujud penerapan soft power yang sangat efektif, khususnya di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) dan Indo-Pasifik yang diwarnai keanekaragaman budaya dan potensi konflik geopolitik.
“Melalui diplomasi pertahanan berbasis budaya, negara dapat membangun kepercayaan (confidence-building measures), meredakan ketegangan, serta memperkuat stabilitas kawasan tanpa terus mengandalkan kekuatan militer semata (hard power),” ujar Ujang Supriatin kepada wartawan di Sukabumi, Minggu (11/10/2026).
Menurutnya, ada kerangka strategis pemanfaatan warisan budaya dan kearifan lokal dalam diplomasi pertahanan regional:
Pertama, Konsep dan Pendekatan Utama. Yakni penyelarasan nilai dan falsafah hidup seperti Gotong Royong dan Bhinneka Tunggal Ika, serta Sumpah Palapa yang mencerminkan persatuan. Termasuk apresiasi budaya antar-militer (Military Cultural Awareness) dengan mengintegrasikan pemahaman budaya kawasan ke dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan militer.
Kedua, Bentuk Strategi Operasional. Meliputi:
A. Soft Power dan Confidence-Building Measures (CBMs) melalui pertukaran budaya seperti festival seni dan penampilan musik tradisional dalam latihan bersama antar negara di forum ASEAN Defence Ministers’ Meeting (ADMM), serta diplomasi kuliner dan pemberian cinderamata kerajinan tradisional seperti Batik atau Keris.
B. Penanganan Konflik dan Keamanan Perbatasan melalui pendekatan kekerabatan lintas perbatasan (cross-border kinship) dengan memanfaatkan kesamaan akar budaya dan suku di wilayah perbatasan untuk meredakan konflik melalui pendekatan adat, serta patroli terkoordinasi berbasis komunitas dengan melibatkan pemangku adat.
C. Operasi Kemanusiaan dan Penanggulangan Bencana (HADR) dengan membawa kearifan lokal sistem mitigasi bencana seperti tradisi Smong di Simeulue untuk tsunami sebagai kontribusi pengetahuan (knowledge sharing) dalam latihan regional.
Ketiga, Manfaat Strategis bagi Kawasan, yakni membangun kepercayaan untuk mengurangi risiko persaingan senjata, meningkatkan citra negara (nation branding) sebagai militer yang humanis, serta memperkuat ketahanan sosial-budaya kawasan.
Keempat, Tantangan Implementasi, antara lain risiko komersialisasi atau politisasi budaya yang bisa memicu ketegangan diplomatik baru, relevansi operasional, dan perlunya sinergi antar-lembaga antara Kementerian Pertahanan, TNI, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Pendidikan.
Ujang Supriatin yang juga berkiprah puluhan tahun sebagai pelaku seni bela diri Pencak Silat dan Debus, serta kini dipercaya sebagai pengurus DPP Persatuan Pencak Silat Seluruh Indonesia yang telah menyebar di 17 provinsi, menegaskan Pencak Silat yang telah diakui UNESCO memiliki peran strategis untuk pertahanan negara.
“Hal yang paling menarik, budaya dan maritim sangat erat dan saling mempengaruhi, terutama bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Ini melahirkan Budaya Maritim (Maritime Culture),” jelasnya.
Bagi masyarakat pesisir dan kepulauan, lanjut dia, laut bukan sekadar bentang alam, melainkan sumber kehidupan dan jati diri yang melahirkan tradisi dan ritual seperti Petik Laut, Sedekah Laut, atau ritual peluncuran kapal tradisional Pinisi, serta folklor dan teknologi kearifan lokal.
“Budaya dan maritim adalah dua hal yang tak terpisahkan. Laut menyediakan ruang ekologis dan tantangan alam, sementara manusia meresponsnya melalui cipta, rasa, dan karsa hingga melahirkan kearifan bahari. Memahami hubungan ini sangat penting untuk membangun kesadaran kebaharian dan memperkuat jati diri bangsa maritim,” pungkasnya.











