Menu
mediakoran.com

Adu Bako Mencari Solusi Penanganan KOHE

  • Share

MeKo | BANDUNG BARAT — Satuan Tugas (Satgas) Citarum Harum Tahun 2026 menggelar rapat koordinasi bersama para peternak sapi di wilayah Parongpong, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), dalam rangka mencari solusi terhadap persoalan limbah ternak atau kotoran hewan (kohe) yang berpotensi mencemari lingkungan dan aliran sungai.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Dansatgas Citarum Harum, Kol Inf Yanto Kusno Hendarto, S.H., dan dilaksanakan di wilayah Sektor 8 Lembang. Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya Satgas Citarum Harum untuk memperkuat sinergi dengan masyarakat, khususnya para peternak, dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan di kawasan hulu DAS Citarum.

Dalam arahannya, Kol Inf Yanto Kusno Hendarto menyampaikan bahwa persoalan lingkungan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum merupakan persoalan yang kompleks dan membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Tidak hanya pemerintah dan aparat, tetapi juga masyarakat yang tinggal serta beraktivitas di sekitar wilayah aliran sungai.
“Hari ini kita berkumpul dan bersilaturahmi dengan para peternak sapi di Parongpong, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, untuk bersama-sama menjaga lingkungan. Ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau Satgas Citarum Harum, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama,” ujar Kol Inf Yanto.

Menurutnya, berbagai persoalan yang selama ini menjadi perhatian di sepanjang DAS Citarum sangat beragam. Mulai dari sedimentasi, sampah, limbah industri, hingga limbah pakan dari kegiatan keramba jaring apung (KJA) yang berlebihan. Di samping persoalan tersebut, limbah peternakan berupa kohe juga perlu mendapatkan perhatian serius karena apabila tidak dikelola dengan baik dapat masuk ke saluran air dan akhirnya bermuara ke Sungai Citarum.
“Seperti kita semua tahu, permasalahan di DAS Citarum itu mulai dari sedimentasi, sampah, limbah industri, limbah pakan seperti di KJA yang berlebihan, semuanya menumpuk di Citarum, termasuk kohe atau kotoran hewan,” jelasnya.

Kol Inf Yanto menegaskan bahwa persoalan limbah ternak tidak dapat dianggap sebagai masalah kecil. Kotoran hewan mengandung berbagai unsur yang apabila dibuang secara sembarangan dan tidak dikelola dengan baik dapat memberikan dampak terhadap kualitas lingkungan maupun sumber daya air.

Oleh karena itu, ia mengingatkan para peternak agar tidak membuang kohe ke selokan maupun saluran air. Sebab, limbah yang dibuang ke selokan dapat terbawa aliran air menuju anak sungai dan pada akhirnya masuk ke aliran Sungai Citarum.
“Mari kita jaga lingkungan ini bersama-sama dan jangan dibuang sembarangan ke selokan yang berujung ke anak sungai dan berakhir di Citarum. Ini sudah saya sampaikan berulang kali,” tegasnya.

Citarum Berkaitan dengan Ketahanan Energi
Dalam kesempatan tersebut, Dansatgas Citarum Harum juga menjelaskan bahwa menjaga kebersihan Sungai Citarum bukan hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi memiliki keterkaitan dengan berbagai sektor yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas, termasuk sektor energi.

Menurutnya, aliran Sungai Citarum memiliki peran penting dalam sistem waduk yang kemudian dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Sejumlah waduk di sepanjang aliran Citarum memiliki turbin pembangkit yang menghasilkan energi listrik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk wilayah Jawa dan Bali.
“Citarum itu mengaliri tiga waduk. Di sana terdapat turbin PLTA yang listriknya menerangi Jawa dan Bali. Jadi, menjaga Citarum ini bukan hanya soal sungainya saja, tetapi juga berkaitan dengan kepentingan masyarakat yang lebih luas,” ungkapnya.

Selain PLTA, lanjut Kol Inf Yanto, pengembangan energi terbarukan juga terus dilakukan, salah satunya melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di kawasan waduk.

Ia menyampaikan bahwa berbagai pengembangan pembangkit energi tersebut pada prinsipnya bertujuan untuk memberikan manfaat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Bukan hanya PLTA saja, karena sekarang pun sedang dikembangkan yang namanya PLTS. Presiden menegaskan bahwa di semua waduk, PLTS itu bertujuan untuk mensejahterakan rakyat. Jangan sampai wilayah kita tidak ada yang teraliri oleh listrik. Sudah tahun 2026, masa masih belum tersentuh listrik, masih gelap,” tuturnya.

Karena itu, menurutnya, menjaga kelestarian lingkungan di kawasan DAS Citarum harus menjadi kepedulian bersama. Setiap aktivitas masyarakat yang berada di wilayah hulu memiliki konsekuensi terhadap kondisi sungai hingga kawasan hilir.
Dorong Budidaya Cacing sebagai Solusi
Sebagai langkah konkret dalam menangani persoalan kohe, Kol Inf Yanto Kusno Hendarto mendorong koperasi maupun kelompok yang bergerak di bidang peternakan sapi untuk mulai mengembangkan budidaya cacing.

Menurutnya, budidaya cacing dapat menjadi salah satu alternatif pemanfaatan limbah ternak sekaligus memberikan nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakat.
Pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan kondisi dan luas lahan yang dimiliki masing-masing koperasi atau kelompok peternak.
“Saya ingin setiap koperasi yang terkait dengan ternak sapi ini bisa mempunyai kegiatan budidaya cacing dengan menyesuaikan dengan luas lahannya,” katanya.

Ia menjelaskan, budidaya cacing dipilih karena memiliki peluang ekonomi yang cukup menjanjikan. Selain membantu mengolah limbah organik, hasil budidaya tersebut juga telah memiliki pangsa pasar sehingga diharapkan dapat menjadi kegiatan produktif bagi para peternak.
“Kenapa harus dengan budidaya cacing dan bukan yang lain? Karena yang lain prosesnya masih panjang, sementara untuk budidaya cacing itu mempunyai nilai ekonomis karena sudah ada pangsa pasarnya,” jelas Kol Inf Yanto.

Menurutnya, persoalan lingkungan harus diikuti dengan solusi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan demikian, upaya menjaga kebersihan lingkungan tidak dipandang sebagai beban, tetapi dapat menjadi bagian dari kegiatan ekonomi produktif.

Ia berharap para peternak tidak hanya melihat kohe sebagai limbah yang harus dibuang, tetapi dapat mengolahnya menjadi sesuatu yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi.
“Selagi kita punya niat, semuanya bisa tercapai. Karena ini semua demi keberlangsungan anak cucu kita nantinya,” pungkasnya.

Bangun Kesadaran Bersama
Rapat koordinasi tersebut menjadi momentum bagi Satgas Citarum Harum untuk terus membangun komunikasi dan kesadaran bersama dengan masyarakat di kawasan hulu DAS Citarum. Persoalan limbah peternakan diharapkan dapat diselesaikan melalui pendekatan kolaboratif, dengan melibatkan peternak, koperasi, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan terkait.

Satgas Citarum Harum juga mendorong agar pengelolaan kohe dilakukan secara terpadu, sehingga tidak ada lagi limbah ternak yang dibuang sembarangan dan berpotensi masuk ke saluran air.

Upaya tersebut diharapkan tidak hanya mampu mengurangi beban pencemaran Sungai Citarum, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat melalui pemanfaatan limbah ternak secara produktif.
Dengan semangat menjaga lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Satgas Citarum Harum berkomitmen untuk terus melakukan pembinaan dan mendorong lahirnya berbagai inovasi di masyarakat.

Menjaga Citarum merupakan tanggung jawab bersama. Dari hulu, setiap limbah yang dikelola dengan baik akan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan sungai, lingkungan, dan kehidupan masyarakat hingga ke generasi mendatang.***

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *