Menu
mediakoran.com

Cahaya Iduladha, Nikmatnya Berkorban dan Bahagianya Perempuan

  • Share

MeKo || Bandung 

Oleh: Siti Muntamah Oded
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat

Iduladha dan Rupa-rupa Cerita

Setiap Iduladha selalu datang membawa cerita. Ada gema takbir yang menghangatkan langit, ada tangan-tangan yang saling berbagi, dan ada hati yang kembali belajar tentang makna memberi. Di balik perayaan yang kita saksikan setiap tahun, sesungguhnya Iduladha mengajarkan satu pelajaran yang sangat dekat dengan kehidupan kita: bahwa cinta sering kali hadir dalam bentuk pengorbanan.

Kita mengenang keteguhan Nabi Ibrahim AS, keikhlasan Nabi Ismail AS, dan kekuatan Siti Hajar, seorang ibu yang namanya abadi dalam sejarah. Dari keluarga mulia itu, kita belajar bahwa pengorbanan bukanlah tentang kehilangan, melainkan tentang keyakinan bahwa setiap kebaikan yang diberikan dengan tulus akan berbuah keberkahan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37).

Ayat ini mengingatkan kita bahwa inti dari kurban bukanlah apa yang tampak di mata manusia, melainkan ketulusan yang hidup di dalam hati. Dan jika berbicara tentang ketulusan, barangkali para ibu adalah sosok yang paling akrab dengan bahasa itu.

Setiap hari, jutaan ibu menjalani bentuk-bentuk pengorbanan yang sederhana namun luar biasa. Mereka bangun lebih awal daripada yang lain. Mereka sering menjadi orang terakhir yang beristirahat. Mereka menyimpan lelah di balik senyum, menyembunyikan cemas di balik pelukan, dan mengubah doa-doanya menjadi kekuatan bagi keluarga.
Namun, ada satu hal penting yang perlu terus kita ingat: pengorbanan tidak berarti menghilangkan kebahagiaan diri sendiri.

Cintai Diri yang kadang Dilupakan demi Berkoran

Sering kali perempuan merasa bahwa menjadi baik berarti selalu mendahulukan orang lain dan melupakan dirinya sendiri. Padahal, seorang ibu yang bahagia adalah hadiah yang sangat berharga bagi keluarganya. Kebahagiaan seorang ibu ibarat mata air yang menghidupi sebuah taman. Ketika mata air itu terjaga, bunga-bunga akan tumbuh, dedaunan akan menghijau, dan kehidupan akan menemukan keseimbangannya.

Karena itu, tidak ada yang salah ketika seorang perempuan meluangkan waktu untuk belajar, mengembangkan potensi dirinya, menjaga kesehatan, atau mengejar cita-cita yang baik. Semua itu bukanlah bentuk keegoisan. Justru itulah cara seorang perempuan merawat energi yang kelak akan dibagikannya kepada banyak orang.

Tokoh psikologi positif dunia, Martin Seligman, pernah menyampaikan bahwa kebahagiaan yang sejati lahir ketika seseorang menggunakan kekuatan terbaik dalam dirinya untuk tujuan yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Dalam kehidupan perempuan, kebahagiaan seperti itu sering kali hadir ketika ia mampu melihat dirinya bertumbuh sekaligus memberi manfaat bagi orang lain.
Karena sesungguhnya setiap perempuan memiliki caranya sendiri untuk menjadi luar biasa.

Perempuannya dan Perannya sebagai Kiblat Kebaikan

Ada perempuan yang membangun peradaban dari ruang keluarga, mendidik anak-anaknya dengan cinta dan keteladanan. Ada yang mengabdikan diri sebagai guru, tenaga kesehatan, pelaku usaha, aktivis sosial, akademisi, maupun pemimpin di berbagai bidang kehidupan. Ada pula yang mengemban amanah pelayanan publik, memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui kebijakan dan kerja-kerja kemaslahatan.

Semua jalan itu mulia. Semua jalan itu berharga.

Ranah Berjuang Kita Berbeda-beda

Tidak ada satu ukuran tunggal tentang keberhasilan perempuan. Sebab setiap perempuan memiliki medan juangnya masing-masing. Yang satu menguatkan masyarakat dari ruang kelas, yang lain dari ruang usaha, yang lain lagi dari ruang keluarga. Namun semuanya sedang menanam benih yang sama: benih kebaikan bagi masa depan.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).

Hadits ini menghadirkan pengingat yang menenangkan. Bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa tinggi ia berdiri, tetapi oleh seberapa banyak manfaat yang dapat dirasakan orang lain karena kehadirannya.

Maka tidak perlu merasa kecil karena peran yang dijalani hari ini terlihat sederhana. Sebab sejarah sering kali dibangun oleh orang-orang yang setia melakukan kebaikan-kebaikan kecil setiap hari.

Momentum Iduladha juga mengajak kita untuk menengok sekitar. Di luar sana masih banyak keluarga yang membutuhkan perhatian, anak-anak yang membutuhkan perlindungan, perempuan yang membutuhkan dukungan, dan masyarakat yang membutuhkan lebih banyak harapan.

Kepedulian tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang besar. Kadang ia datang melalui telinga yang mau mendengar, tangan yang siap membantu, atau hati yang memilih memahami daripada menghakimi. Seperti tetes-tetes air yang perlahan mengisi kendi, kebaikan kecil yang dilakukan dengan konsisten sering kali menghadirkan perubahan yang besar.

Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang berani diambil hari ini. Dari seorang perempuan yang memutuskan untuk terus belajar. Dari seorang ibu yang memilih untuk tetap optimis. Dari seseorang yang tidak lelah menebarkan manfaat meskipun dunia terkadang terasa tidak mudah.(*)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *