MeKo || Bogor
Ketua Forum Komunikasi P4S Kabupaten Bogor sekaligus Ketua Paguyuban Pasar Petani Garuda, Ruslan menyerahkan varietas unggul alpukat Garuda Yaksa kepada petani dalam acara sosialisasi sertifikasi pengedar benih hortikultura di Pasar Petani Garuda, Selasa (7/4).
Pemerintah Kabupaten Bogor mendorong percepatan sertifikasi benih hortikultura menyusul masih minimnya benih lokal berstandar resmi, sehingga kebutuhan pasar selama ini banyak dipenuhi dari luar daerah.
Dorongan itu disampaikan dalam sosialisasi sertifikasi pengedar benih hortikultura yang digelar Forum Komunikasi Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (FK-P4S) Kabupaten Bogor di Pasar Petani Garuda, Selasa (7/4).

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bogor, Entis Sutisna mengatakan sertifikasi menjadi kunci agar benih lokal bisa masuk dalam sistem pengadaan pemerintah melalui e-katalog.
“Selama ini tanaman kita banyak, tapi sertifikatnya masih minim. Akibatnya, pengadaan benih justru banyak dilakukan dari luar daerah,” kata Entis.
Ia menegaskan, pihaknya mendorong petani hortikultura agar benih yang diproduksi memiliki sertifikat resmi sehingga dapat dibeli oleh pemerintah maupun pelaku usaha.
“Kalau sudah masuk e-katalog, anggaran pemerintah bisa digunakan untuk membeli dari kita. Ke depan kita dorong agar kebutuhan benih tidak lagi dipenuhi dari luar, tapi dari Bogor sendiri,” ujarnya.
Ketua Forum Komunikasi P4S Kabupaten Bogor sekaligus Ketua Paguyuban Pasar Petani Garuda, Ruslan menambahkan, kegiatan ini diikuti para pedagang benih tanaman buah dan tanaman hias.
“Kami berharap ke depan para pedagang atau petani di Pasar Petani Garuda ini memiliki kompetensi produsen benih yang unggul, kemudian juga mengedarkan benih unggul, kemudian baik benih maupun orangnya tersertifikasi sesuai dengan regulasi,” ujarnya.
Ruslan menyebutkan, sebanyak 75 pelaku usaha tergabung dalam FK-P4S Kabupaten Bogor dan beraktivitas di Pasar Petani Garuda.
Komoditas yang dipasarkan cukup beragam, mulai dari tanaman buah unggul, tanaman hias, bonsai, hingga sarana produksi pertanian dan jasa lanskap.
Ia juga menyoroti potensi alpukat lokal Bogor yang telah dikembangkan menjadi varietas unggul dengan nama Alpukat Garuda Yaksa.
“Alpukat ini sudah sekitar tujuh tahun dikembangkan dan terbukti adaptif di dataran rendah hingga tinggi. Karena itu kami daftarkan sebagai varietas unggul lokal Bogor,” jelasnya.
Ruslan menjelaskan, varietas tersebut awalnya merupakan tanaman introduksi, namun telah memenuhi syarat sebagai varietas lokal setelah dikembangkan lebih dari enam tahun dan terbukti unggul.
Dari sisi keunggulan, Alpukat Garuda Yaksa memiliki produktivitas tinggi, daging buah lembut, serta mudah diperbanyak dengan tingkat keberhasilan hingga 95 persen.
“Tanaman ini juga cepat berbuah, sekitar dua hingga tiga tahun sudah mulai panen. Untuk umur sekitar enam sampai tujuh tahun, produksinya bisa mencapai 200 kilogram per pohon,” ujarnya.
Selain itu, kulit buah yang tebal membuatnya lebih tahan terhadap serangan lalat buah, sementara percabangan yang rimbun mendukung produktivitas tinggi.
Ruslan menambahkan, saat ini pengembangan Alpukat Garuda Yaksa tidak hanya di Bogor, tetapi juga telah dilakukan di sejumlah daerah seperti Sukabumi, Kalimantan, dan Bengkulu.
Meski permintaan benih cukup besar, ia mengakui banyak petani belum bisa memenuhi pasar karena belum memiliki sertifikasi.
“Padahal anggaran pengadaan benih cukup besar, tapi karena belum tersertifikasi, petani tidak bisa ikut. Ini yang sedang kita dorong agar mereka bisa masuk dalam pengadaan pemerintah,” katanya.
Dengan percepatan sertifikasi, diharapkan pelaku usaha benih di Bogor mampu menangkap peluang pasar sekaligus memperkuat kemandirian benih daerah.










