Oleh: Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas), Jurnalis Pewarna Indonesia
MeKo||Bogor
Menjadi jurnalis Kristen di Indonesia bukan sekadar menjalankan profesi. Ini adalah pergulatan sunyi—di tengah budaya yang santun namun sering enggan berterus terang, religius namun mudah berkompromi, dan penuh slogan moral tetapi ragu ketika kebenaran menyentuh kekuasaan.
Sunyi itu nyata.
Ia hadir ketika fakta diminta dilunakkan.
Ia hadir ketika judul harus “dipercantik”.
Ia hadir ketika akses lebih dihargai daripada integritas.
Namun iman Kristen tidak pernah dibangun di atas kenyamanan. Alkitab berkata:
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.” (Roma 12:2)
Ayat ini adalah panggilan etis—agar iman tidak tunduk pada arus sistem yang korup oleh kompromi.
Dalihan Na Tolu: Ketegasan yang Bermartabat
Falsafah Batak tentang Dalihan Na Tolu mengajarkan keseimbangan dan kehormatan relasi. Tungku tidak boleh timpang. Jika satu kaki melemah, api kehilangan stabilitas.
Pers dalam demokrasi adalah salah satu kaki tungku itu.
Namun bagaimana jika kaki itu mulai condong pada kepentingan? Jika relasi lebih penting daripada verifikasi? Jika kompromi lebih aman daripada konfrontasi fakta?
Budaya Batak mengajarkan keberanian berkata benar meski pahit.
“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain.” (Efesus 4:25)
Kebenaran bukan opsi. Ia kewajiban moral.
Rukun Jawa: Kebijaksanaan atau Kebisuan?
Budaya Jawa menjunjung rukun. Konflik diredam. Kritik diperhalus.
Namun harmoni yang dibangun di atas pengaburan fakta bukanlah kebijaksanaan—ia adalah kebisuan yang disepakati.
“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya. Jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak.” (Matius 5:37)
Rukun sejati tidak lahir dari kompromi terhadap kebenaran.
Honai Papua: Kejujuran yang Apa Adanya
Honai di Papua adalah simbol kehidupan yang jujur dan tidak dibuat-buat. Ia sederhana, tetapi kokoh.
Dari sana kita belajar: kebenaran tidak perlu polesan.
“Sebab kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran, melainkan hanya untuk kebenaran.” (2 Korintus 13:8)
Lebih baik jujur meski terasa keras, daripada halus tetapi manipulatif.
Si Tou Timou Tumou Tou: Minahasa dan Tanggung Jawab Moral
Minahasa memiliki falsafah luhur: Si Tou Timou Tumou Tou—manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain.
Ini bukan sekadar semboyan. Ia adalah etika sosial.
Dalam konteks jurnalistik, memanusiakan berarti:
Tidak mengeksploitasi korban demi trafik.
Tidak mempermalukan tanpa verifikasi.
Tidak menghakimi tanpa fakta.
Budaya Minahasa juga mengenal semangat mapalus—kerja bersama untuk kebaikan bersama. Namun gotong royong yang sejati bukanlah solidaritas menutupi kesalahan, melainkan keberanian menjaga martabat bersama.
“Yang dituntut TUHAN daripadamu ialah berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu.” (Mikha 6:8)
Memanusiakan manusia adalah inti dari keadilan itu.
Jurnalis Kristen tidak dipanggil untuk membangun citra. Ia dipanggil untuk menjaga martabat manusia melalui kebenaran.
Melawan sunyi berarti menolak diam ketika nurani terusik.
Indonesia kaya budaya—Batak dengan ketegasan, Jawa dengan kebijaksanaan, Papua dengan kejujuran, Minahasa dengan nilai kemanusiaan.
Namun semua nilai itu bisa kehilangan makna jika tunduk pada kompromi.
“Kamu adalah garam dunia.” (Matius 5:13)
Garam tidak ramai. Ia larut. Tetapi tanpa garam, sesuatu cepat membusuk.
Jurnalis Kristen mungkin tidak selalu terlihat. Tetapi ketika ia menjaga nurani, ia sedang menjaga ruang publik dari pembusukan moral.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan:
“Apakah tulisan ini aman?”
Melainkan:
“Apakah saya tetap memanusiakan manusia dan setia pada kebenaran?”
Di negeri yang gemar merapikan konflik di balik harmoni,
melawan sunyi adalah keberanian rohani.
Dan menjaga nurani adalah bentuk ibadah yang paling nyata.











