MeKo|| JAKARTA (12/01/2026)
Ketua Umum Forum Komunikasi Santri Indonesia (FOKSI), Muhammad Natsir Sahib, menyayangkan pernyataan Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Rokhmin Dahuri, yang dinilai cenderung spekulatif dan tidak berbasis data terkait tudingan terhadap Bapak Luhut Binsar Pandjaitan (LBP). FOKSI meminta para pejabat publik untuk menjaga lisan dan tidak “asal bunyi” (asbun) tanpa melihat rekam jejak dan fakta yang sebenarnya.
“Kami dari kalangan santri sangat menghargai etika dalam berbicara, apalagi bagi seorang pejabat dan akademisi. Menuding tanpa dasar yang kuat kepada seseorang yang telah mewakafkan sisa hidupnya untuk mengabdi pada negara adalah tindakan yang tidak bijak,” tegas Natsir Sahib dalam keterangan tertulisnya, Senin (12/1).
Natsir Sahib menekankan bahwa tuduhan mengenai keterlibatan Pak Luhut dalam PT Toba Pulp Lestari (TPL) adalah lagu lama yang terus digoreng tanpa bukti hukum. Padahal, Pak Luhut secara konsisten telah menunjukkan keberpihakannya pada lingkungan dan rakyat Tapanuli.
“Publik perlu tahu, Pak Luhut sejak era Presiden Gus Dur sudah vokal menolak praktik yang merusak lingkungan di Danau Toba. Bahkan, beliau sendiri yang meminta kepada Presiden Prabowo agar lahan-lahan tersebut dikembalikan untuk kepentingan rakyat dan pemulihan ekosistem melalui pertanian teknologi. Ini adalah bukti nyata keberpihakan pada rakyat, bukan oligarki,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ketum FOKSI mengungkapkan bahwa jabatan-jabatan strategis yang diemban Pak Luhut selama ini bukanlah ambisi pribadi, melainkan amanah yang berat.
“Banyak yang tidak tahu bahwa sebenarnya Pak Luhut sudah ingin beristirahat. Beliau menerima jabatan di pemerintahan bukan karena mengejar materi atau kekuasaan, tapi murni karena diminta untuk membantu bangsa. Beliau menerima itu dengan berat hati namun penuh rasa tanggung jawab demi bakti kepada Merah Putih,” tambah Natsir.
FOKSI mengingatkan agar ruang publik jangan diisi dengan prasangka yang bisa memecah belah bangsa. Sesuai dengan pesan Pak Luhut, kritik harus berdiri di atas data, bukan asumsi.
“Kami meminta Prof. Rokhmin dan pihak-pihak lain untuk berhenti mengusik Pak Luhut dengan narasi negatif. Mari kita kedepankan tabayyun (verifikasi). Jangan sampai negara ini kehilangan fokus untuk maju hanya karena gaduh oleh tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar. Santri Indonesia berdiri bersama pemimpin yang bekerja dengan hati dan data,” pungkas Natsir Sahib.











