Menu
mediakoran.com

Isra Mi’raj 2026: Saatnya Bangun Solidaritas, Bukan Sekadar Seremonial

  • Share

MeKo|| Bogor, 16 Januari 2026 

Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah / 2026 M dimaknai bukan hanya sebagai peristiwa keagamaan, tetapi juga sebagai pengingat pentingnya membangun dan merawat solidaritas sosial di tengah masyarakat Indonesia yang beragam.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Romo Kefas, sapaan bagi Ev. Kefas Hervin Devananda, S.Th., M.Pd.K, mantan calon legislatif DPRD Provinsi Jawa Barat Daerah Pemilihan 8, dalam refleksi kebangsaannya menyambut Isra Mi’raj tahun ini.

Menurut Romo Kefas, nilai spiritual dalam Isra Mi’raj seharusnya tidak berhenti pada ritual dan simbol keagamaan, melainkan diterjemahkan dalam sikap nyata berupa kepedulian, empati, dan keberpihakan terhadap sesama.

> “Iman yang kuat seharusnya melahirkan solidaritas yang kuat. Isra Mi’raj mengingatkan kita bahwa hubungan dengan Tuhan harus berdampak pada cara kita memperlakukan sesama manusia,” ujar Romo Kefas, Jumat (16/1/2026).

 

Ia menilai bahwa tantangan bangsa saat ini bukan hanya soal perbedaan, tetapi melemahnya rasa kebersamaan dan kepedulian sosial. Dalam situasi tersebut, solidaritas menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terpecah oleh isu, kepentingan, maupun polarisasi.

Romo Kefas menegaskan bahwa solidaritas kebangsaan tidak mengenal sekat agama, suku, pilihan politik, maupun latar belakang sosial. Menurutnya, kekuatan Indonesia justru terletak pada kemampuannya untuk saling menopang di tengah perbedaan.

> “Kita boleh berbeda keyakinan dan pandangan, tetapi ketika sesama anak bangsa saling menguatkan, di situlah Indonesia menjadi besar,” tegasnya.

 

Ia juga mengajak generasi muda untuk menjadikan solidaritas sebagai sikap hidup, baik di dunia nyata maupun ruang digital, dengan menolak ujaran kebencian, hoaks, dan sikap saling menjatuhkan.

Menutup pesannya, Romo Kefas berharap peringatan Isra Mi’raj 2026 dapat menjadi momentum kebangkitan solidaritas sosial, di mana nilai iman diterjemahkan menjadi aksi nyata untuk persatuan dan kesejahteraan bersama.

> “Bangsa ini tidak akan kuat hanya dengan simbol, tetapi dengan solidaritas. Dan solidaritas lahir dari hati yang mau peduli,” pungkasnya.

 

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *