Menu
mediakoran.com

Ballroom Bergemuruh! Icha Yang Sukses Hidupkan Malam Cap Go Meh 2026

  • Share

MeKo|| JAKARTA

Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (3/3) dengan tema “Discover Timeless Harmony” Cap Gomeh Celebration 2026, Rayakan Harmoni Imlek Nusantara berlangsung meriah.

Acara mencapai klimaksnya dalam malam penutupan Cap Go Meh yang megah, gemerlap, dan sarat atmosfer budaya. Di bawah cahaya lampion merah dan dekorasi emas yang mendominasi ballroom legendaris tersebut, satu nama menjadi pusat perhatian: Icha Yang.

Penampilan ini menjadi kali kedua Icha Yang tampil di hotel bersejarah itu. Namun dibandingkan tahun sebelumnya, energi yang tercipta terasa jauh lebih eksplosif.

Sejak nada pembuka dimainkan, para tamu langsung larut dalam suasana. Ballroom tak sekadar menjadi ruang pertunjukan, melainkan berubah menjadi panggung kebersamaanpara undangan bernyanyi, bergoyang, dan menyatu dalam irama.
“Tahun ini konsepnya memang berbeda,” ujar Icha seusai konser.

Jika sebelumnya ia membawakan repertoar lintas genre dan bahasa, kali ini seluruh setlist dirancang khusus dengan dominasi lagu-lagu Mandarin. Konsep tersebut selaras dengan momentum Cap Go Meh sebagai puncak
Perayaan Imlek, menghadirkan nuansa Tionghoa yang kental dan autentik. Deretan lagu enerjik seperti “Lai Lai Guo Xin Nian”, “He Xin Nian”, hingga “Wo Zhi Zai Hu Ni” sukses memancing euforia. Tak berhenti di situ, Icha juga menghadirkan lagu-lagu populer Mandarin lainnya seperti “Yan Wu”, “Lan Da Tou De Yue”, “Wo Xiang Ni La”, “Ting Hai”, “Xi Huan Ni”, “Hai Guo Tian Kong”, “Peng You”, dan “Xiao Wei”.

“Beberapa di antaranya bahkan berubah menjadi koor massal, menghadirkan suasana hangat bak reuni keluarga besar.
Menariknya, tidak ada satu pun lagu berbahasa Indonesia yang dibawakan malam itu.

Keputusan tersebut sepenuhnya mengikuti konsep acara yang memang dirancang full Mandarin. “Karena ini momen Imlek dan Cap Go Meh, jadi memang nuansanya total Mandarin. Kalau acaranya berbeda, tentu bisa saja saya bawakan lagu Indonesia,” jelasnya.

Meski seluruh lagu menggunakan bahasa Mandarin, respons audiens tetap luar biasa lintas etnis dan generasi. Bagi Icha, musik adalah bahasa universal. Ia melihat keterbukaan masyarakat Indonesia terhadap budaya Tionghoa, termasuk melalui musik, semakin terasa kuat dari tahun ke tahun.

Kemampuannya melafalkan lirik Mandarin dengan fasih juga menjadi sorotan. Icha mengaku mempelajari bahasa tersebut secara otodidak, termasuk saat pernah menetap selama sebulan di Tiongkok. Pengalaman itu membentuk artikulasi yang matang dan penghayatan yang lebih mendalam di setiap lagu yang ia bawakan.
Dari sisi visual,

Icha tampil dengan pendekatan berbeda. Ia memilih busana bernuansa Tionghoa modern tanpa balutan tradisional lengkap seperti biasanya namun tetap mempertahankan sentuhan klasik. Perpaduan modern dan tradisi itu mencerminkan wajah Imlek masa kini:
berakar kuat pada budaya, tetapi tetap relevan dengan zaman.

Tak hanya penampilan Icha Yang, malam penutupan Cap Go Meh di Hotel Borobudur Jakarta juga diramaikan pertunjukan lain yang tak kalah memukau.
Rangkaian acara yang tertata rapi membuat suasana terus hidup hingga penghujung malam.

Perayaan ini menegaskan bahwa Imlek kini bukan lagi sekadar perayaan komunitas tertentu,
Melainkan bagian dari mozaik kebudayaan Indonesia yang dirayakan bersama. Dan di antara gemerlap lampion yang perlahan dipadamkan, suara Icha Yang menjadi gema paling membekas membawa harmoni,

sukacita, dan semangat persaudaraan yang melampaui batas bahasa, tutur Icha yang Sangat gembira dan penuh rasa Sumringah.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *