Menu
mediakoran.com

Intermediate Training Raya HMI Depok 2026: Dandim Tekankan Kepemimpinan Visioner Hadapi Tantangan Zaman

  • Share

MeKo|| Depok

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Depok menggelar Intermediate Training Raya Tahun 2026 di Graha Insan Cita, Jalan Prof. Lafran Pane No. 100, Kelurahan Bhaktijaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, Rabu (29/1/2026).

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.25 hingga 10.45 WIB tersebut mengusung tema “Menjawab Tantangan Kontemporer, Mensinergikan Keteguhan Iman, Perspektif Kontekstual, dan Kebermanfaatan untuk Indonesia.” Tema ini menegaskan komitmen HMI dalam menyiapkan kader yang adaptif terhadap perubahan zaman, namun tetap berlandaskan nilai keislaman dan kebangsaan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Komandan Kodim (Dandim) 0508/Depok Kolonel Inf. Triano Iqbal, S.I.P., M.Si., yang juga menjadi pemateri utama. Turut hadir Mayor Inf. Suyono mewakili Dandim 0508/Depok, Mayor Arm. Erwin Syahputra selaku Pasiren Kodim 0508/Depok, Peltu Haidir Batiren Kodim 0508/Depok, Babinsa Kelurahan Bhaktijaya, Ketua Umum HMI Cabang Depok Riyandi, moderator Fani, serta peserta Intermediate Training Raya HMI Cabang Depok.

Dalam pemaparannya, Kolonel Inf. Triano Iqbal menekankan bahwa Indonesia akan menghadapi tantangan besar dalam sepuluh tahun ke depan, terutama akibat pesatnya perkembangan teknologi, ketimpangan ekonomi, serta perubahan sosial dan pola hidup masyarakat.

Ia menyoroti realitas ketimpangan yang masih dirasakan, di mana pekerjaan lapangan kerap belum sebanding dengan pekerjaan di sektor formal. Menurutnya, hal ini menjadi tantangan serius bagi kepemimpinan masa depan untuk menciptakan keadilan dan peningkatan kualitas hidup yang lebih merata.

Lebih lanjut, Dandim menegaskan bahwa pengabdian kepada bangsa tidak terbatas pada profesi atau jabatan tertentu. Setiap peran, mulai dari sopir, tukang parkir, pekerja lapangan, mahasiswa, hingga masyarakat umum, merupakan bagian penting dari keberlangsungan negara.

“Kepemimpinan tidak selalu soal posisi, tapi soal kontribusi nyata. Negara tidak akan berjalan tanpa peran semua lapisan masyarakat,” tegasnya.

Kolonel Triano juga menyoroti pentingnya kepemimpinan manajerial dalam menjaga stabilitas nasional. Ia menjelaskan bahwa pemimpin yang tidak memiliki kemampuan manajemen berpotensi menimbulkan ketidakteraturan, baik dalam skala organisasi kecil maupun dalam pemerintahan.

Kepemimpinan manajerial, lanjutnya, mencakup kemampuan mengatur waktu, menyusun agenda, mengelola sumber daya, serta mengoordinasikan berbagai kepentingan. Prinsip ini, menurutnya, relevan diterapkan sejak mahasiswa aktif berorganisasi.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mendorong generasi muda untuk mandiri dalam mengelola waktu dan kehidupan sejak dini, termasuk mengatur perkuliahan, keuangan, serta menentukan arah hidup. “Seseorang harus mampu memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain,” ujarnya.

Untuk menghadapi masa depan, Kolonel Triano memaparkan empat pilar kepemimpinan transformasional, yakni visioner, inspiring, inovatif, dan team building. Keempat pilar tersebut dinilai penting agar generasi muda mampu menjadi agen perubahan yang adaptif, kolaboratif, dan berintegritas.

Selain itu, ia menekankan bahwa stabilitas keamanan dan pembangunan nasional merupakan hasil kolaborasi lintas sektor, antara pemerintah, swasta, TNI–Polri, organisasi mahasiswa, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui kegiatan sosial, donor darah, hingga pengabdian langsung kepada masyarakat.

Menutup materinya, Kolonel Triano mengingatkan bahwa mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori, tetapi juga harus belajar dari studi kasus nyata, menganalisis persoalan, serta menawarkan solusi konkret.

“Generasi muda adalah harapan Indonesia ke depan. Dengan kepemimpinan yang visioner, kolaboratif, dan berintegritas, Indonesia bisa menjadi bangsa yang lebih adil, kuat, dan maju,” pungkasnya.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *