Menu
mediakoran.com

Pdt. Dr. Leo Fransisco Nilai Sinergi Warga dan Polisi Jadi Fondasi Keamanan Berkelanjutan di Bogor

  • Share

MeKo||KOTA BOGOR

Sinergi yang terjalin antara masyarakat dan aparat kepolisian selama pengamanan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 di Kota Bogor dan kawasan Puncak menjadi contoh terbaik bagaimana kerja sama lintas elemen bisa menghasilkan hasil yang luar biasa. Hal ini disampaikan oleh Pdt.Dr. Leo Fransisco, M.Pd – Ketua Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Kota Bogor sekaligus Gembala Jemaat Gereja GPIAI Filadelfia Bogor – yang melihat kolaborasi ini sebagai fondasi penting untuk membangun keamanan yang berkelanjutan di Kota Bogor.

“Sinergi yang kita lihat selama Nataru bukan hanya tentang menangani satu momen liburan semata, tapi lebih sebagai model yang bisa kita kembangkan untuk keamanan sehari-hari. Kolaborasi yang erat ini membuktikan bahwa kita bisa menciptakan lingkungan yang aman dan damai jika semua pihak bersinergi dengan penuh kesadaran akan tanggung jawab bersama,” ujar Pdt.Dr. Leo Fransisco.

Perspektif ini didasarkan pada berbagai bentuk kerja sama yang terwujud secara nyata. Di Gereja GPIAI Filadelfia Bogor, misalnya, kolaborasi tidak hanya terjadi menjelang dan selama hari Natal, melainkan sudah dimulai sejak beberapa minggu sebelumnya dengan melakukan koordinasi rutin antara panitia gereja dan petugas polisi untuk menyusun langkah-langkah antisipatif. Hal ini termasuk pemetaan area sekitar gereja, penetapan jalur akses, hingga pembentukan tim relawan yang dilatih langsung oleh pihak kepolisian tentang cara membantu menjaga ketertiban.

Selain itu, bentuk sinergi juga terlihat dari inisiatif masyarakat yang proaktif. Banyak warga yang membentuk kelompok keamanan masyarakat swadaya untuk membantu mengawasi lingkungan sekitar, terutama di malam hari. Kelompok ini bekerja sama dengan pos polisi terdekat untuk melaporkan setiap aktivitas yang mencurigakan, sehingga mampu mencegah beberapa potensi kasus kejahatan sebelum terjadi.

“Di kawasan Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor, kita melihat bagaimana komunitas lokal bekerja sama dengan polisi dalam mengelola keramaian wisatawan. Mereka membantu memberikan informasi tentang tempat wisata, mengatur parkir kendaraan, dan bahkan membantu petugas polisi dalam menyebarkan pesan tentang pentingnya menjaga kebersihan dan ketertiban,” jelasnya.

Di kawasan Puncak, sinergi ini melibatkan berbagai pihak mulai dari pemerintah lokal, pengusaha wisata, organisasi masyarakat, hingga pelajar. Banyak pelajar yang menjadi relawan untuk membantu mengatur lalu lintas dan memberikan informasi kepada wisatawan, sementara pengusaha wisata menyediakan fasilitas pendukung seperti tempat parkir tambahan dan area istirahat bagi petugas keamanan. Data menunjukkan bahwa meskipun arus kendaraan mencapai lebih dari 32 ribu unit per hari, tidak terjadi kemacetan berkepanjangan atau insiden yang mengganggu keselamatan.

Pdt.Dr. Leo Fransisco menekankan bahwa contoh sinergi ini perlu terus diperkuat dan diterapkan di berbagai sektor kehidupan masyarakat. “Keberhasilan pengamanan Nataru tahun ini adalah bukti bahwa kesatuan dan kerja sama bisa mengatasi segala tantangan. Kita harus menjadikan sinergi ini sebagai bagian dari budaya masyarakat Bogor untuk menciptakan kota yang lebih aman, damai, dan sejahtera,” tandasnya.

Jurnalis: Atma
Editor: Romo Kefas

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *