Menu
mediakoran.com

Pendaftaran Ketua PWI Lampung Resmi Dibuka, Idealisme dan Kesejahteraan Wartawan Jadi Sorotan

  • Share

MeKo||LAMPUNG

Kontestasi pemilihan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung periode 2026–2031 mulai memasuki tahapan penting. Di tengah dibukanya pendaftaran calon ketua, nama Wirahadikusumah mencuat sebagai kandidat ketua, sementara Adi Kurniawan dinilai layak mengisi posisi Ketua Dewan Kehormatan (DK).

Kombinasi keduanya mendapat perhatian dari Syaiful Amri, mantan Wakil Sekretaris Bidang Aset PWI Pusat periode 2023–2025. Ia menilai pengalaman organisasi, kepemimpinan, dan integritas yang dimiliki kedua figur tersebut dapat menjadi modal untuk memperkuat PWI Lampung.

“Saya melihat keduanya sebagai paket komplet. Satu punya orientasi kepemimpinan, satu lagi punya wibawa etik. Paten punya ini barang!” ujar Syaiful, Senin (19/10/2026).

Mantan Redaktur Pelaksana Disway.id itu menilai Wirahadikusumah memiliki pengalaman organisasi dan pemahaman jurnalistik yang menjadi bekal untuk kembali memimpin PWI Lampung.

Pengalaman Wirahadikusumah sebagai mantan Pemimpin Redaksi Radar Lampung, menurut Syaiful, dapat menjadi modal untuk mendorong organisasi lebih adaptif menghadapi perkembangan dunia pers.

“Wira punya pengalaman memimpin organisasi sekaligus memahami denyut keredaksian. Kembalinya dia bisa menjadi angin segar bagi PWI Lampung,” katanya.

Di sisi lain, Syaiful menilai Adi Kurniawan memiliki pengalaman dan penerimaan yang baik di kalangan wartawan senior maupun junior. Ia berharap Adi dapat berperan dalam menjaga kehormatan profesi serta memperkuat penerapan etika jurnalistik di lingkungan PWI Lampung.

“Dia senior sekaligus panutan bagi banyak jurnalis, termasuk saat saya di Radar Lampung. Intinya kehadiran keduanya bikin PWI makin solid,” ujarnya.

Regenerasi dan Idealisme Pers Jadi Tantangan

Bagi Syaiful, pemilihan kepemimpinan PWI tidak semestinya hanya berorientasi pada perolehan dukungan, kekuatan jejaring, atau kepentingan organisasi. Lebih dari itu, kontestasi ini harus menjadi momentum memperkuat independensi pers dan menjaga martabat profesi wartawan.

Ia menekankan pentingnya keberanian wartawan untuk tetap kritis, termasuk ketika berhadapan dengan kepentingan internal maupun eksternal organisasi.

“Jangan sampai wartawan paling berani ketika mengkritik orang lain, tetapi mendadak kehilangan suara ketika kepentingannya sendiri tersentuh,” tegasnya.

Syaiful juga menyoroti persoalan kesejahteraan dan perlindungan wartawan yang dinilainya masih perlu mendapat perhatian serius. Menurutnya, idealisme jurnalistik harus berjalan beriringan dengan upaya memastikan pekerja pers memperoleh hak dan perlindungan yang layak.

“Jujur agak ironis, kita diminta menjaga demokrasi, sementara sebagian pekerja pers masih berjuang menjaga dapur sendiri. Idealisme penting, tetapi kesejahteraan juga bukan bonus,” ungkapnya.

Karena itu, ia berharap kepemimpinan PWI Lampung mendatang mampu memperkuat perlindungan profesi, meningkatkan kompetensi wartawan, serta membuka ruang regenerasi yang sehat.

Syaiful menilai pengalaman para senior perlu menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda, sementara wartawan muda harus diberikan kesempatan untuk menghadirkan gagasan dan inovasi.

“Senior punya pengalaman, junior membawa energi. Kalau keduanya mau saling mendengar, organisasi bisa bergerak tanpa kehilangan arah,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa soliditas organisasi tidak berarti seluruh anggota harus memiliki pandangan yang sama. Perbedaan pendapat justru perlu dikelola secara sehat demi menjaga keberlangsungan organisasi.

“Solid bukan berarti semua orang harus sepakat. Solid itu ketika kita berbeda pandangan, tetapi tetap punya komitmen menjaga rumah bersama,” ujarnya.

Menurut Syaiful, pergantian kepemimpinan seharusnya menjadi kesempatan bagi PWI Lampung untuk memperkuat independensi pers, meningkatkan kualitas jurnalistik, dan memastikan organisasi tetap berpihak pada kepentingan publik.

“Jabatan boleh berganti, kepengurusan boleh berubah, tetapi idealisme jangan ikut dimutasi. Kalau pers kehilangan keberanian, publik kehilangan salah satu cara untuk mengawasi kekuasaan,” tutupnya.

Pendaftaran Calon Ketua Dibuka hingga 26 Oktober 2026

Sementara itu, Tim Penjaringan dan Pendaftaran (TPP) telah membuka pendaftaran bakal calon Ketua PWI Lampung periode 2026–2031 pada 19–26 Oktober 2026.

Berdasarkan ketentuan panitia, masa perbaikan berkas tidak memperpanjang batas waktu pendaftaran. Setiap bakal calon diwajibkan menyerahkan dokumen persyaratan secara langsung dan tidak diperkenankan mewakilkannya kepada pihak lain, termasuk liaison officer (LO).

Panitia mencatat Daftar Pemilih Sementara (DPS) mencapai 529 pemilih. Dengan ketentuan dukungan minimal 10 persen dari jumlah pemilih dan pembulatan ke atas, setiap bakal calon membutuhkan sedikitnya 53 dukungan untuk memenuhi ambang batas pencalonan.

Pelayanan pendaftaran dibuka pada hari kerja pukul 09.30–16.30 WIB. Sementara itu, pada Minggu, pelayanan berlangsung pukul 09.30–15.30 WIB.

Setelah pemeriksaan kelengkapan dokumen, TPP akan meneruskan berkas melalui Ketua Organizing Committee (OC) kepada PWI Pusat. Selanjutnya, pengurus pusat berwenang menetapkan bakal calon menjadi calon resmi sesuai ketentuan organisasi.

Dengan batas waktu pendaftaran yang semakin dekat, kelengkapan administrasi dan pemenuhan dukungan menjadi hal penting bagi setiap bakal calon.

Pemilihan ini diharapkan tidak sekadar menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi juga menjadi momentum memperkuat persatuan wartawan, menjaga integritas profesi, serta memastikan PWI Lampung mampu menjawab tantangan dunia jurnalistik ke depan.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *