Menu
mediakoran.com

Sail Siliwangi 2022: Ketika Kapal Ferrocement Menantang Laut, Kapten Mudaim Belajar Arti Kepemimpinan

  • Share

MeKo | Kab Bandung — Sebuah perjalanan tidak selalu diukur dari seberapa jauh jarak yang ditempuh, tetapi dari seberapa banyak pelajaran yang diperoleh sepanjang perjalanan tersebut. Bagi Kapten Czi Mudaim, S.Pd.I., C.Ht., M.E., pengalaman mengarungi laut dalam rangka Sail Siliwangi tahun 2022 menjadi salah satu perjalanan yang hingga kini masih membekas dalam ingatannya.

Saat itu, Kapten Mudaim masih berpangkat Letnan Dua dan berdinas di Yonzipur 3/YW Kodam III/Slw. Ia mendapat tugas dari Komandan Batalyon, Letkol Czi Dhanisworo, S.Sos., untuk membawa kapal ferrocement dari Pantai Carita, Banten, menuju Karawang.

Dalam perjalanan tersebut, ia tidak sendiri. Empat orang awak turut mendampinginya, yakni Srk Eko, Serda A. Windai, Pratu Frengky, serta seorang awak sipil. Mereka berlima menjadi satu tim yang harus bekerja sama menghadapi berbagai kondisi selama pelayaran.

Bagi Kapten Mudaim, tugas tersebut bukan sekadar membawa sebuah kapal menuju tempat tujuan.
“Saat itu saya melihat tugas tersebut sebagai sebuah amanah. Kami tidak hanya membawa kapal, tetapi juga membawa tanggung jawab terhadap keselamatan seluruh awak yang berada di dalamnya,” ungkap Kapten Mudaim saat mengenang kembali perjalanan tersebut.

Perjalanan dimulai dari Pantai Carita. Sebelum berangkat, seluruh perlengkapan dipersiapkan, mulai dari kondisi kapal, mesin dompeng, bahan bakar hingga kebutuhan selama perjalanan.
Ketika kapal mulai meninggalkan pantai, garis daratan perlahan semakin jauh. Di hadapan mereka terbentang laut yang luas dengan kondisi yang tidak selalu dapat diprediksi.

Pada awal perjalanan, semuanya berjalan dengan baik. Namun setelah beberapa waktu, para awak mulai merasakan adanya getaran yang tidak biasa pada mesin dompeng.

Setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui bahwa bagian dudukan mesin mengalami keretakan akibat getaran. Kondisi tersebut membuat seluruh awak meningkatkan kewaspadaan karena mesin merupakan bagian penting dalam menjaga kapal tetap bergerak dan terkendali.
Kekhawatiran tersebut akhirnya benar-benar terjadi. Dudukan mesin terlepas sehingga mesin boat/dompeng bergeser dari posisinya dan hampir jatuh ke laut.

Situasi seketika menjadi tegang.
Namun tidak ada waktu untuk panik. Kapten Mudaim bersama seluruh awak langsung bergerak mengamankan mesin.
“Yang terpikir saat itu hanya bagaimana mesin bisa diamankan dan kapal tetap dalam kondisi terkendali. Kami tidak boleh panik karena keselamatan seluruh awak menjadi yang utama,” tutur Kapten Mudaim.
Dengan kerja sama seluruh awak, mesin akhirnya berhasil diamankan sebelum benar-benar jatuh ke laut. Mereka kemudian melakukan penanganan dan perbaikan darurat menggunakan peralatan yang tersedia di atas kapal.

Setelah dilakukan pengamanan, mesin kembali dapat dioperasikan dan perjalanan dilanjutkan.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Sail Siliwangi yang dijalani Kapten Mudaim. Ia menyadari bahwa dalam sebuah tugas, persoalan kecil sekalipun dapat berkembang menjadi masalah besar apabila tidak segera ditangani.

Dalam perjalanan menuju Karawang, rombongan juga sempat singgah di kawasan Kepulauan Seribu. Persinggahan tersebut dimanfaatkan untuk beristirahat sekaligus kembali memeriksa kondisi kapal, mesin, dan perlengkapan yang digunakan.
Setelah kondisi dipastikan cukup aman, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Karawang.

Bagi Kapten Mudaim, pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting mengenai arti kepemimpinan. Sebagai perwira muda pada saat itu, ia dituntut untuk tetap tenang dan mampu mengambil keputusan ketika menghadapi situasi yang tidak terduga.
“Saya belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang memberikan perintah. Ketika menghadapi persoalan, seorang pemimpin harus mampu tetap tenang, mengambil keputusan, turun langsung, dan memastikan anggotanya tetap aman,” katanya.
Ia juga menilai bahwa keberhasilan perjalanan tersebut tidak terlepas dari kekompakan seluruh awak.

Di tengah laut, perbedaan pangkat maupun latar belakang tidak menjadi hal utama. Yang terpenting adalah saling percaya, saling membantu, dan memahami tugas masing-masing.

“Kami berlima harus menjadi satu tim. Kalau satu orang lengah, dampaknya bisa dirasakan semuanya. Karena itu komunikasi dan kerja sama menjadi sangat penting selama perjalanan,” ujar Kapten Mudaim.
Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya daratan Karawang mulai terlihat. Bagi kelima awak, munculnya daratan tersebut menjadi tanda bahwa perjalanan panjang mereka segera berakhir.

Perasaan lega bercampur haru dirasakan setelah kapal berhasil mencapai tujuan.
Bagi Kapten Mudaim, perjalanan tersebut kemudian menjadi lebih dari sekadar catatan kedinasan. Sail Siliwangi 2022 menjadi pengalaman yang memberikan pelajaran tentang keberanian, ketenangan, tanggung jawab, kerja sama, serta pentingnya menjaga keselamatan dalam setiap pelaksanaan tugas.

“Kalau saya mengingat kembali perjalanan itu, yang paling saya ingat bukan hanya lautnya, tetapi bagaimana kami menghadapi masalah bersama. Dari sana saya belajar bahwa keberhasilan sebuah tugas tidak pernah hanya karena satu orang. Ada kerja sama, ada keberanian, ada tanggung jawab, dan tentu ada doa,” ungkapnya.
Kini, bertahun-tahun setelah perjalanan tersebut, Kapten Czi Mudaim masih menyimpan pengalaman itu sebagai salah satu bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya.

Perjalanan dari Pantai Carita menuju Karawang mungkin telah berakhir pada tahun 2022. Namun pelajaran yang diperoleh dari laut tersebut tetap menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Sebuah kapal ferrocement, lima orang awak, laut yang luas, serta sebuah mesin yang hampir jatuh ke laut telah menjadi saksi bahwa dalam menjalankan sebuah amanah, ketenangan, kekompakan, keberanian, dan tanggung jawab merupakan kunci untuk menghadapi setiap tantangan.**

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *