Menu
mediakoran.com

Mendur Bersaudara Mengabadikan Indonesia, Mengapa Negara Lambat Mengabadikan Jasa Mereka?

  • Share

MeKo || MINAHASA 

Ironi peringatan kemerdekaan kembali mencuat dari Talikuran, Kecamatan Kawangkoan Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Di tanah kelahiran dua fotografer legendaris Indonesia, Alex dan Frans Mendur, berdiri Tugu Pers Mendur yang kondisinya kini memprihatinkan.

Bangunan rumah panggung yang menjadi bagian dari kawasan Tugu Pers Mendur mulai dimakan rayap. Kondisi dinding juga terlihat kusam. Sementara itu, koleksi foto karya Mendur bersaudara yang dahulu menjadi kekuatan utama tempat tersebut disebut kini hanya tersisa sebagian.

Pengelola Tugu Pers Mendur, Pierre Mendur, menilai kondisi tersebut menjadi keprihatinan serius. Menurutnya, bangsa Indonesia tidak boleh hanya mengenang perjuangan Alex dan Frans melalui seremoni setiap peringatan kemerdekaan, tetapi harus memastikan peninggalan sejarah mereka tetap terawat dan dapat dipelajari generasi mendatang.

“Ada sesuatu yang sangat lucu sekaligus menyedihkan dari cara bangsa ini menghormati sejarah. Setiap Agustus kita sibuk bicara tentang pahlawan, memasang bendera dan menggelar upacara. Tetapi di Talikuran, sejarah justru sedang dimakan rayap,” ujar Pierre, Jumat (14/8/2026).

Menurut Pierre, persoalannya bukan sekadar kondisi fisik bangunan. Hilangnya sebagian koleksi foto karya Mendur bersaudara jauh lebih mengkhawatirkan karena foto-foto tersebut merupakan bagian dari arsip visual perjalanan bangsa Indonesia.

“Dulu ada sekitar 113 foto karya Mendur bersaudara. Sekarang hanya beberapa yang tersisa. Selebihnya entah ke mana. Yang hilang bukan sekadar lembaran foto, tetapi bagian dari ingatan Indonesia,” katanya.

Alex dan Frans Mendur dikenal sebagai fotografer yang merekam berbagai momentum penting perjalanan Republik Indonesia. Kamera mereka mengabadikan suasana awal kemerdekaan, perjuangan rakyat, perundingan Indonesia-Belanda hingga berbagai peristiwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Bagi Pierre, karya kedua saudaranya bukan sekadar dokumentasi jurnalistik. Foto-foto tersebut merupakan bukti visual yang membantu generasi sekarang memahami bagaimana republik melewati masa-masa awal yang penuh ketidakpastian.

“Ketika sejarah Indonesia membutuhkan saksi, mereka hadir dengan kamera. Ketika republik masih rapuh dan masa depan belum jelas, mereka merekamnya. Ketika banyak orang hanya bisa bercerita tentang perjuangan, Mendur bersaudara meninggalkan bukti visual,” ujarnya.

Tugu Pers Mendur sendiri diharapkan menjadi ruang untuk menjaga ingatan tersebut. Monumen itu diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 Februari 2013. Namun, kondisi yang terjadi saat ini dinilai membutuhkan perhatian serius pemerintah dan seluruh pihak terkait.

Pierre mempertanyakan bagaimana mungkin bangsa yang selalu menyerukan pentingnya menjaga sejarah justru membiarkan tempat yang berkaitan langsung dengan sejarah pers dan perjuangan kemerdekaan mengalami kerusakan.

“Jangan sampai negara terlihat sangat cepat memberikan penghargaan kepada mereka yang masih punya panggung, tetapi begitu lambat menghormati mereka yang sudah memberikan karya untuk generasi yang bahkan belum lahir ketika karya itu dibuat,” tegasnya.

Dorong Alex dan Frans Mendur Jadi Pahlawan Nasional

Selain persoalan kondisi Tugu Pers Mendur dan penyelamatan arsip, Pier juga menyoroti belum ditetapkannya Alex dan Frans Mendur sebagai Pahlawan Nasional.

Menurut dia, perjuangan dan karya Mendur bersaudara layak mendapatkan pengakuan lebih tinggi karena memiliki kontribusi besar dalam merekam perjalanan bangsa.

“Alex dan Frans Mendur telah mengabadikan wajah perjuangan Indonesia. Pertanyaannya sekarang, siapa yang akan mengabadikan jasa mereka?” kata Pierre.

Ia memahami, pemberian gelar Pahlawan Nasional memiliki mekanisme dan persyaratan yang harus dipenuhi. Namun, ia berharap pemerintah tidak membiarkan proses tersebut berjalan tanpa kepastian.

“Kalau seluruh persyaratannya memang terpenuhi, kami berharap proses pengusulan dan penetapan Alex dan Frans Mendur sebagai Pahlawan Nasional dapat diselesaikan,” ujarnya.

Pierre menegaskan, penyelamatan Tugu Pers Mendur tidak cukup dilakukan dengan mengecat ulang dinding atau mengganti kayu yang rusak. Pemerintah perlu melihatnya sebagai bagian dari upaya menyelamatkan memori bangsa.

Ia mengusulkan agar seluruh arsip yang masih tersisa segera diselamatkan dan didigitalisasi. Koleksi yang keberadaannya belum diketahui juga perlu ditelusuri, sementara bangunan Tugu Pers Mendur harus direhabilitasi agar dapat berfungsi sebagai pusat edukasi sejarah pers dan perjuangan Indonesia.

“Foto yang hilang tidak bisa dipotret kembali. Sejarah yang hilang tidak bisa di-restore seperti file komputer. Karena itu, yang harus dilakukan sekarang adalah menyelamatkan apa yang masih ada sebelum semuanya terlambat,” katanya.

Menurut Pierre, keberadaan Tugu Pers Mendur seharusnya tidak hanya menjadi simbol setiap bulan Agustus. Tempat tersebut dapat dikembangkan menjadi ruang pembelajaran bagi pelajar, wartawan, peneliti dan masyarakat untuk mengenal sejarah perjuangan Indonesia melalui karya fotografi.

“Jangan menunggu rumah panggung itu roboh. Kita mungkin masih bisa membangun bangunan baru, tetapi ketika arsip sejarah hilang, kita tidak bisa membangun kembali ingatan yang sudah mati,” pungkas Pierre.

Ia berharap momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi pengingat bahwa menghormati pahlawan tidak cukup melalui upacara dan pidato. Menjaga karya, arsip dan tempat yang menjadi bagian dari sejarah perjuangan juga merupakan bentuk nyata penghormatan kepada mereka yang telah mengabadikan perjalanan republik.

Sebab, menurut Pierre, jangan sampai suatu hari generasi mendatang bertanya, “Alex dan Frans Mendur itu siapa?” bukan karena mereka tidak peduli sejarah, melainkan karena generasi sebelumnya gagal menjaga dan mewariskan sejarah tersebut.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *