Ngopi Kebangsaan Gali Pesan Kesetaraan dan Kerukunan di Tengah Perbedaan

Surakarta- Mediakoran.com

Bunyi tabuhan Gending Jawi mengiringi empat orang penari berjalan pelan keluar dari selasar rumah Dinas Wakil Walikota Surakarta. Mereka melangkah ritmik menuju bagian tengah pendopo. Keempatnya mengenakan atasan bewarna merah serta kain batik bermotif parang berukuran besar sebagai simbol yang mewakili bangsawan dari empat kerajaan keturunan Trah Mataram, yakni Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Pakualaman.

Liuk gemulai para gadis muda ini merupakan bagian dari tarian Catur Sagatra, sebuah tarian penanda persatuan dari keempat kerajaan besar di Tanah Jawa yang memiliki garis nenek moyang yang sama. Tarian ini pula yang menjadi pembuka dari kegiatan Simposium Setara Menata Bangsa dan Ngopi Kebangsaan, berlokasi di pendopo dan ruang pertemuan Rumah Dinas Wakil Walikota Surakarta Drs. Teguh Prakosa, Sabtu pagi (18/3).

Ketua Pelaksana kegiatan Ngopi Kebangsaan yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Rhema Indonesia, Dwi Urip Premono, dalam sambutannya menuturkan kepada para hadirin bahwa pelaksanaan Ngopi Kebangsaan kali ini mendapatkan sambutan positif dari Walikota Surakarta dan jajarannya.

Dirinya berharap apa yang disarikan dari kegiatan kali ini akan menjadi sumbangan pemikiran dan ide moral bagi bangsa Indonesia. Nantinya, lanjut Urip, para narasumber bisa mengambil konteks dari masing-masing daerah agar mampu menarik benang merah untuk upaya merajut kesetaraan dan menjadikan praktik toleransi dalam laku keseharian.

Secara khusus dirinya mengucapkan terima kasih atas kedatangan para peserta Ngopi Kebangsaan dari sejumlah wilayah seperti Jakarta, Medan dan Kupang. “Secara khusus saya ucapkan terima kasih atas kesediaan waktu dari para hadirin semua,” ucapnya membuka simposium.

Wakil Walikota Surakarta dalam sambutannya yang diwakili Asisten pemerintahan Kesra Kota Surakarta, Tamso, MM, menuturkan kerukunan umat beragama merupakan pilar kerukunan nasional yang harus terus dipelihara.

“Kerukunan hidup antar umat beragama berarti keadaan hubungan sesama umat beragama dilandasi toleransi, saling pengertian, menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Teguh Prakosa juga menyoroti fakta bahwa kerukunan antar umat beragama tidak mungkin lahir dari sikap fanatisme buta dan sikap tidak peduli atas hak keberagaman serta perasaan orang lain.

“Dalam upaya kita untuk mewujudkan kerukunan umat beragama, kita mematuhi peraturan yang telah disahkan Negara atau sebuah instansi pemerintahan. Tidak ada agama yang mengajarkan perpecahan ataupun kekerasan,” tegas Teguh.

Sugito SPd, mewakili Dewan Pengurus Sapta Darma Solo membuka pemaparan dengan mengangkat pesan “Jauhkan Dari Kedengkian”. Dalam korelasinya dengan hubungan keseharian Sugito menjelaskan bahwa dalam bingkai kehidupan berbangsa dan bernegara harus diawali dengan menjauhi rasa dengki. Sebab pembangunan bangsa dan negara menurutnya merupakan sebuah tugas yang tidak mudah dan mesti diawali dengan munculnya rasa persatuan, ketimbang mengutamakan kepentingan diri sendiri.

Di kesempatan kedua, Bhante Dammamito S.Psi., M.Si yang mewakili Bhikku Pembina Umat Buddha DIY mengutarakan soal strategi demi mencapai kebahagiaan yang ditinjau dari ajaran Buddhis.

“Kalau hidup kita didasari saling memberi dan berbagi maka kita dapat rukun antara satu dengan yang lain. Lalu menjadi orang yang suka berkumpul dan berkata-kata yang menyenangkan,” paparnya.

Menurutnya fakta yang mesti menjadi kritik bersama saat ini adalah penurunan kualitas dari perkumpulan itu sendiri, di mana sudah mengalami pereduksiam dan distraksi oleh penggunaan gawai yang tidak tepat waktu dan tempatnya.

Poin berikut yang disampaikan Bhante Dammamito terkait dengan perlunya anak bangsa memperlengkapi diri dengan kemurahan hati dan kerukunan. Dirinya kemudian menegaskan bahwa di tengah realita Bangsa Indonesia yang majemuk dibutuhkan pula sebuah kesamaan pandangan dalam bingkai kesetaraan dan kebinekaan.

Sementara itu Js Tjhie Djiwatman, S.Pd, Gr, mewakili Pengurus MATAKIN Solo memaparkan tentang upaya merajut kerukunan yang mesti didasari dengan menjauhi rasa permusuhan. Paparan Djiwatman juga diaminkan oleh Ida Bagus Komang Suarnawa M.Pd.H selaku Ketua PDHI Kota Surakarta. Lebih lanjut dijelaskan Ida seputar landasan ideologi bangsa yang juga memuat pesan kuat terkait rasa persatuan.

Ida lalu mengurai tentang posisi agama yang memiliki pertalian kuat dengan keberadaan Pancasila. Menurutnya ajaran luhur agama adalah konsep pengajaran yang berdasar pada nilai kebenaran dan keadilan, seperti halnya yang terkandung di dalam Pancasila. “Bahwa kita dalam beragama itu adalah sedang menerima ajaran Tuhan,” ujar Ida.

Konsep harmoni dalam kebinekaan kemudian dijelaskan oleh Romo Dr.Aloysius Budi Purnomo Pr. Romo Aloysius menganalogikan semangat harmonisasi yang mampu dihidupkan dengan adanya peran dari masing-masing anak bangsa yang memang sudah ditakdirkan untuk dilahirkan berbeda.

Romo Aloysius yang merupakan Pengajar Program Doktor Ilmu Lingkungan di UNIKA Soegijapranata, Semarang, berkata bahwa keberagaman itu indah ketika dihayati tanpa prasangka dan curiga. Dirinya juga menjelaskan bahwa menghargai sebuah keberagaman merupakan cerminan dari keimanan. “Iman yang cinta kepada Tanah Air. Itulah ekspresi kita melalui Ngopi Kebangsaan,” ujarnya.

Sebagai contoh, dirinya kemudian mengambil sebuah saxophone yang setiap bagiannya masih dalam keadaan terpisah satu sama lain. Masing-masing bagian kemudian ditiup dan menghasilkan beragam nada yang jauh dari kesan estetik. Ketika dirangkai menjadi satu lalu ditiupkan dalam rangkaian nada barulah untaian harmonisasi indah dapat dihasilkan.

Romo Aloysius kemudian mengajak para hadirin untuk bersama menyanyikan lagu ciptaan Liberty Manik pada tahun 1947 silam yang dipimpinnya menggunakan saxophone, berjudul Satu Nusa Satu Bangsa. Sebuah lagu yang terinspirasi dari momen ikrar persatuan pemuda Indonesia melalui Sumpah Pemuda.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Solo KH. M. Mashuri, SE., M.Si, mengurai soal konsep Sarekat, Tarekat dan Hakikat. Menurutnya konsep tertinggi dalam keimanan adalah memahami dan mempraktikan apa yang dimaksud dengan hakikat. Dirinya ikut menyayangkan jika sampai saati ini masih banyak saudara Muslim yang mengusung fanatisme berlebihan hingga menjadi dasar pembenaran untuk melanggar hak orang lain.

“Banyak yang masih melanggar orang lain, banyak yang masih fanatik berlebihan,” ujar Kiai Mashuri.

Ditambahkannya, ketika seorang pengikut ajaran Islam sudah mencapai level hakikat, maka dirinya sudah “selesai” dengan dirinya sendiri, sehingga dia tidak akan mengganggu hak orang lain.

Semangat ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan yang dibangun tanpa melihat perbedaan latar belakang menjadi pesan berikut yang dipaparkan oleh Kiai Mashuri. Dirinya lalu bercerita soal unit ambulans yang dioperasikan oleh PCNU Kota Solo di mana sering dikerahkan untuk membantu masyarakat lintas agama.

“Padahal tertulis jelas bahwa ambulans milik PCNU Kota Solo. Tetapi jika masyarakat membutuhkan, kami persilahkan, tanpa harus mempertanyakan apa agamamu,” tegasnya.

Mewakili umat Kristen, Pimpiman Gereja Kristen Jawa jemaat Manahan, Kota Solo, Pdt. Retno Ratih M.Th., MA, mengenalkan ajaran Kristiani yang bertumpu kepada kasih. Dalam pengaplikasiannya, lanjut Pdt. Retno, konsep kasih memiliki arti yang sangat luas tanpa memandang perbedaan latar belakang termasuk ketika harus mengasihi orang yang memusuhi diri kita sendiri.

“Kasihilah musuhmu. Berdoalah bagi mereka yang menganiayamu. Kalau permusuhan diselesaikan dengan permusuhan, maka tidak akan menciptakan perdamaian,” tegasnya.

Setelah jeda jamuan makan siang, kegiatan Ngopi Kebangsaan dilanjutkan dengan diskusi yang dipandu oleh Prof. Sihol Situngkir, Guru Besar Universitas Jambi dan Promotor Program Doktoral di Universitas Negeri Jakarta.

Lokasi Bersejarah

Kediaman Wakil Walikota Surakarta merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di Jawa Tengah. Dibangun sejak era pra kemerdekaan, yakni merupakan warisan dari kaum bangsawan Mangkunegaran. Dalam perjalanannya, bangunan ini turut menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Di masa kini, rumah dinas ini juga dijadikan tempat bagi upaya merawat pesan-pesan toleransi oleh masyarakat Surakarta maupun dari luar kota yang dipimpin oleh Gibran Rakabuming Raka, ini.

Kristin (61), jemaat Gereja Kristen Jawa yang terletak di Danukusuman, Surakarta, menuturkan kepada Majalah Gaharu bahwa rumah yang berdiri tepat di seberang Tugu Pers Surakarta ini sering dimanfaatkan sebagai lokasi pengajian dan kebaktian bagi kaum ibu PKK di wilayah Surakarta.

Penulis: Ronald

Foto: Ronald

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *